Thursday, 3 July 2008

Tak Akan Pernah Sampai Tujuan Tanpa Langkah Pertama

Baru kali ini seluruh komponen industri asuransi di Indonesia bersatu, menyelenggarakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi.

Sebagai anggota East Asia Insurance Congress (EAIC), Indonesia yang pertama mencanangkan Insurance Day atau Hari Asuransi sesuai tanggal kelahiran EAIC, 18 Oktober tahun ini. Mulai tahun depan, inisiatif ini dilangsungkan serentak di 11 anggota EAIC, yakni di Bandar Sri Begawan, Bangkok, Hongkong, Jakarta, Kuala Lumpur, Makau, Manila, Seoul, Singapura, Taipei, dan Tokyo.

Tahun ini Direktur Pemasaran dan Komunikasi Perusahaan Prudential Indonesia Nini Sumohandoyo dipercaya menjadi komandan lapangan pertama alias ketua panitia penyelenggara di Indonesia. Nini, demikian panggilannya, menjelaskan beberapa hal menyangkut Insurance Day kepada Kompas, Senin lalu, di tengah kesibukannya menyiapkan acara kick-off.

Seberapa penting acara ini, sampai begitu tegang?

Acara ini sangat penting bagi kami komunitas asuransi. Meskipun komponen-komponen asuransi sering melakukan kegiatan semacam ini, sendiri-sendiri sebagai perusahaan maupun sendiri-sendiri sebagai asosiasi, tetapi baru pertama kali ini semua komponen industri bersama regulator bekerja sama untuk suatu acara yang skalanya lebih besar.

Intinya apa yang hendak dilakukan?

Yaitu kick-off dimulainya kampanye kesadaran berasuransi dan meningkatkan profesionalitas pelayanan asuransi. Kebetulan bulan puasa, kita buka puasa bersama dengan siraman rohani oleh Aa Gym.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan mencanangkan Insurance Day Indonesia. Intinya kebersamaan untuk memulai sesuatu, sebab kami sadar tanpa kebersamaan sulit mencapai hasil yang baik. Dan tanpa langkah pertama, kita takkan pernah sampai pada tujuan. Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia berharap langkah pertama ini dapat memberi kontribusi kepada masyarakat.

Asuransi sudah lama hadir. Mengapa baru melakukan kampanye kesadaran berasuransi?

Asuransi memang sudah lama hadir. Tetapi, hasil riset menunjukkan, pemahaman masyarakat tentang asuransi dan manfaatnya masih sangat rendah. Pada saat bersamaan, citra asuransi juga kurang bagus. Itu semua karena ketidaktahuan masyarakat. Contoh level penetrasi pasar untuk asuransi individual sampai sekarang masih kurang dari lima juta orang dibandingkan 220 juta penduduk Indonesia. Peserta asuransi kelompok, mungkin baru sekitar 30 juta polis. Itu masih sangat kecil.

Jaminan sosial itu sebenarnya tanggung jawab pemerintah. Tetapi, dalam kondisi saat ini, kemampuan pemerintah memikul tanggung jawab itu juga sangat terbatas. Memang ada Jamsostek misalnya, tetapi mungkin peserta saat pensiun, dana yang mereka peroleh tidak terlalu besar dan rasanya belum cukup kalau dilihat perkembangan kondisi sekarang. Juga ada asuransi kesehatan, tetapi nilai klaimnya tidak terlalu besar, sedangkan nilai yang mereka harus tanggung kalau sakit mungkin jauh lebih besar.

Oleh karena itu, asuransi individu menjadi sangat penting dalam menyediakan perlindungan bagi dirinya dan aset-asetnya. Jadi, langkah awal ini, bagaimana menggugah kesadaran ini dulu. Memang perlu sosialisasi yang berkesinambungan dan pasti butuh waktu lama.

Setelah kick-off, tentu ada tindak lanjut...!

Tahun depan kami mulai edukasi publik, masuk sekolah, kampus untuk memperkenalkan asuransi sejak dini. Di luar negeri, asuransi diperkenalkan sejak awal, sudah masuk kurikulum sekolah. Kami juga ingin memperkenalkan asuransi sebagai suatu lapangan kerja, sumber mata pencarian.

Agen asuransi, misalnya, saat ini baru ada sekitar 120.000 orang di seluruh Indonesia. Kalau agen baru segitu, padahal mereka ujung tombak asuransi, bagaimana mau mendidik masyarakat yang 220 juta orang.

Tujuan jangka panjang?

Dengan semakin membaiknya tingkat kesadaran masyarakat, lantas bagaimana perencanaan keuangan mereka dapat terjaga baik, mencapai kemakmuran.

Asuransi sering disebut pilar ekonomi suatu bangsa?

Di Indonesia belum bisa dibilang seperti itu. Di negara yang sudah berkembang, peran asuransi memang sangat besar. Kontribusi asuransi di Indonesia, misalnya, baru sekitar 1,66 persen dari PDB. Di Malaysia sekitar 5,4 persen, di Singapura sudah mencapai 7,5 persen PDB-nya. Nah, tantangan asuransi menghimpun dana jangka panjang yang bisa digunakan untuk membiayai pula proyek-proyek pemerintah, seperti pembangunan infrastruktur untuk publik, sarana kesehatan seperti pusat kesehatan masyarakat, sekolah, dan sebagainya. Memang masyarakat harus sadar asuransi dulu.

Tadi disebutkan citra asuransi kurang bagus....

Citra itu kurang bagus karena masyarakat tidak tahu benar. Jadi asuransi harus dikenal dulu. Momentum ini akan kami (industri asuransi) gunakan untuk membuka diri supaya lebih transparan, lebih dikenal. Masyarakat butuh informasi asuransi, tetapi tidak tahu mereka harus ke mana. Jadi ada good will industri asuransi untuk memberi penjelasan, pendidikan, dan mencoba menyelesaikan kalau ada problem asuransi yang dihadapi masyarakat. Kami, seluruh komponen industri asuransi bersama pemerintah, sepakat untuk memberikan pelayanan lebih baik supaya citra asuransi itu bisa terangkat.

Apa yang diharapkan dari pemerintah?

Pemerintah juga sadar banyak kekurangan, karena itu mereka mau ikut bersama-sama kami.

Yang diharapkan, pemerintah lebih fokus dalam melaksanakan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai regulator dan pengawas untuk mendukung tumbuhnya industri, memfasilitasi kepentingan nasabah dan industri.

Di sisi lain, kami pun siap mendukung pemerintah dalam keterbatasannya, di tengah banyaknya terjadi musibah yang menyusahkan masyarakat (KCM)

No comments: